Asal Muasal Bencoolen di Singapura

Situs Tripadvisor (@TripAdvisor) merilis “Things to Do near Ibis Singapore on Bencoolen”. Anda bisa membacanya dengan mengklik link ini.

Faktanya banyak orang Indonesia memilih Bencoolen sebagai daerah untuk menginap selama berlibur di Singapura. Hotelnya yang murah dan dekat dengan Bugis Street, yang terus terang ‘bernuansa Indonesia’, menyebabkan Bencoolen street cukup populer.

Mengapa daerah tersebut disebut Bencoolen street? Jalan tersebut dinamai Bencoolen untuk memperingati jasa Sir Stamford Raffles (1781-1826) di Bencoolen (Sumatera) sebagai Letnan Gubernur.

Oke, di situ disebut Bencoolen ada di Sumatera. Lalu, dimana Bencoolen itu? Yup, Bencoolen merupakan nama dulu dari Bengkulu saat ini. Dulu, sekitar tahun 1685, Bengkulu merupakan pusat berdirinya perusahaan Inggris bernama The British East India Company (EIC).

Selain itu, daerah tersebut di Singapura disebut Bencoolen karena juga sesuai dengan kenyataan bahwa tempat itu, dulu, terletak di Kampong Bencoolen. Jadi sebelum diberi nama Bencoolen Street, daerah tersebut sudah ada sebuah kampung atau pemukiman yang bernama Kampong Bencoolen.

Ketika Raffles datang dari Bencoolen (Bengkulu) ke Singapura, sejumlah orang Melayu Bencoolen (orang-orang Bengkulu) datang juga, dan menetap di sekitar Jalan Bencoolen.

Ketika Inggris menyerahkan kepemilikannya kepada Belanda di Sumatera (Benteng Marlborough di Bencoolen) setelah penandatanganan Perjanjian Belanda Anglo tahun 1824, jumlah penduduk di Kampong Bencoolen meningkat.

Saking banyaknya penduduk di kampung tersebut, hingga hari ini sebagian besar orang Melayu Singapura tertua dan beberapa keluarga Eurasia berasal dari pemukim Bencoolen.

Kampong Bencoolen meliputi area Jalan Bencoolen, Waterloo Street, Prinsep Street, Middle Road dan Albert Street.

Karena orang-orang Bengkulu yang tinggal di Kampong Bencoolen mayoritas Islam, maka selain nama jalan, pengingat lain tentang asal-usul komunitas tersebut dapat dilihat dari keberadaan Masjid Benggali di Jalan Bencoolen. Masjid ini mungkin dibangun sebagai gedung pertemuan pada tahun 1825-28 oleh kaum Muslim Bencoolen yang tinggal di daerah ini.

Sekitar tahun 1845, seorang pedagang Arab dari Palembang, bernama Syed Omar bin Al Junied (1792-1852) membangun gedung yang berdiri hingga saat ini.

Di daerah tersebut juga ada kuburan untuk orang-orang Bencoolen. Kuburan untuk Muslim Bencoolen terletak di tempat yang sekarang menjadi bagian dari halaman Istana (bagian yang menghadap Orchard Road).

Orang Tionghoa pada masa pra-perang kadang-kadang menyebut jalan Bencoolen dengan istilah Chai tng Au, yang berarti “di belakang aula vegetarian”. Sebutan tersebut merujuk pada rumah pertemuan para vegetarian Tionghoa yang berada di daerah tersebut.

Mau tau sejarah Singapura lainnya? Please follow @gregorivvs …

 



Leave a Reply

Demos

Color Skin

Header Style

Nav Mode

Layout

Wide
Boxed