iPod dan Daya Ungkit

“Seperti kolaborasi musik: seseorang harus menyukai lainnya.”—

Klaus Schulze

 

Setelah lulus dari Grosse Pointe South High School di Michigan, Anthony M. Fadell mendirikan perusahaan bernama Constructive Instruments dimana ia bertindak sebagai CEO. Di situ, ia menciptakan teknologi yang disebut dengan istilah MediaText untuk membantu anak-anak kecil belajar. Sebagai orang yang bekerja di industri teknologi, namanya memang tidak diperhitungkan sampai pada tahun 2001, ia menemukan teknologi yang mengubah sejarah Apple Inc hingga hari ini. Produk itu bernama iPod yang sudah dipatenkan atas nama dirinya sendiri.

Ia memang bukan orang baru di Apple karena pernah bergabung pada tahun 1992. Oleh karena itulah, saat perusahaan peninggalan mendiang Steve Jobs ini merekrutnya lagi di tahun 2001, Apple langsung “menganugerahi” jabatan sebagai Senior Vice President of the iPod Division.

Saat menciptakan iPod, ide dasarnya sangat sederhana, yaitu kebutuhan. Ia ingin menciptakan player MP3 sendiri dengan ukuran yang sangat kecil, sekecil korek api yang bisa dimasukkan ke dalam saku. Tapi yang menjadi fakta tak terbantahkan adalah, jika saja iPod ini tak “dirangkul” oleh Apple, mungkin penemuan Fadell tidaklah signifikan dalam sejarah.

Banyak sekali penemuan-penemuan mendadak begitu sukses setelah “dirangkul” oleh perusahaan besar yang memiliki keuangan tak terbatas serta sumber daya yang melimpah. Inilah salah satu manfaat terbesar dari keberadaan “daya ungkit”. Perusahaan-perusahaan semacam Apple, Microsoft, atau lainnya memiliki daya ungkit yang tak dimiliki oleh orang biasa atau perusahaan kecil. Uang, jaringan, publikasi, distribusi, dan retail. Apple memiliki semua daya ungkit ini yang tak dipunyai Fadell. Oleh karena itulah, produktivitas Fadell meningkat tajam karena mendapat dukungan dari “teman” yang jauh lebih kuat.

Fenomena daya ungkit seperti ini juga berlaku di dunia musik. Sheila on 7 mungkin bukan “siapa-siapa” kalau tak dibantu oleh Sony Music. Daya ungkit acara “Ajang Musisi Lokal” yang diselenggarakan Radio Geronimo dan G-Indie Production di Yogyakarta mungkin memiliki pengaruh atas karier penyanyi asal Yogyakarta ini. Tapi kekuatannya tak seberapa jika dibandingkan dengan nama besar Sony Music. Andaikan tak ada label besar yang sudi menandatangani kontrak dengan group musik ini, apakah Sheila on 7 pernah menjadi group musik paling produktif? Belum tentu.

Kalau sudah begini, kita jadi tahu persis bahwa produktivitas terkait dengan kerja sama dengan pihak lain yang lebih kuat. Seorang penulis membutuhkan penerbit, seorang seniman kayu membutuhkan jalur distribusi ke Eropa, pembuat consumer goods membutuhkan jaringan retailer seperti Indomart atau Alfamart. Tanpa kekuatan pihak lain, produktivitas bisa turun ke level paling “melantai”.

INSPIRASI UNTUK DUNIA KERJA

Perusahaan manapun tak akan pernah bisa menjadi “sesuatu” kalau tak didukung pihak lain. Konsumen akhir (end user) memang menentukan produktivitas. Artinya, seorang produsen akan bersemangat untuk memproduksi lebih banyak barang-barang berkualitas. Tapi tetap saja produsen membutuhkan “penyambung lidah” antara pabrik dan konsumen seperti toko, distributor, dan retailer. Temukan siapa saja yang dapat menaikkan produktivitas Anda. Ajaklah bekerja sama.

INSPIRASI UNTUK DUNIA SEKOLAH

Dibanding orang yang bekerja di perusahaan besar, mahasiswa memang masih kesulitan menemukan daya ungkit dari pihak lain. Mengapa? Karena mahasiswa masih dianggap sebagai pihak di luar para profesional. Tapi bukan berarti mahasiswa tak punya daya ungkit sama sekali. Nama besar universitas dan sekolah bisa dijadikan daya ungkit juga. Seorang mahasiswa yang melakukan penelitian di bawah bendera universitas akan jauh lebih dihargai dibanding orang lain yang lebih pintar namun tak memiliki daya ungkit yang kuat. Jadi, selama masih berada di balik layar universitas, manfaatkan nama besar tersebut untuk kepentingan Anda.

 



Leave a Reply

Demos

Color Skin

Header Style

Nav Mode

Layout

Wide
Boxed