Ejaan yang Baik

“Kata-kata adalah alat pokok dalam pekerjaan ini. Bila kau tidak bisa mengeja dengan tepat atau tidak bisa memakai kata-kata dengan efektif dan akurat, kau tidak tepat untuk masuk dalam percaturan surat kabar.”

 

Koran, majalah, dan buku dihidupi oleh kata-kata. Oleh karena itu, penulisan kata dengan baik dan tepat merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh setiap orang yang masuk ke dalam industri tersebut. Teguran di atas dikatakan seorang editor yang marah karena ia menemukan beberapa kata yang ditulis secara salah dalam naskah seorang reporter.

Dalam dunia tulis menulis, kata yang ditulis dengan salah itu bisa berarti banyak hal, seperti terjadi kesalahan ketik, penggunaan kosakata yang tidak tepat, atau penulisan data yang benar-benar tidak akurat.

Kesalahan pertama tidak menimbulkan implikasi apapun selain dari cibiran masyarakat tentang betapa tidak telitinya seorang editor di perusahaan media massa atau penerbitan tersebut. Sedangkan kesalahan kedua akan menimbulkan kesalahpahaman yang memicu rasa ketidaknyamanan antara reporter dan  narasumber. Sedangkan kesalahan ketiga bisa menimbulkan implikasi hukum akibat penulisan data yang tidak akurat.

BACA JUGA: Layanan Editing yang Cepat dan Akurat

Intinya, bila salah ejaan sudah benar-benar ditemukan dan muncul dalam koran, majalah, atau buku, maka banyak hal bisa terjadi dan repotnya, tidak satu pun yang baik. Kepercayaan masyarakat pada media itu akan luruh. Salah cetak mengurangi citra perusahaan media tersebut sebagai korporasi atau tim yang profesional, dan membuat isinya selalu dicurigai. Kesimpulannya, bila koran, majalah, atau buku saja ceroboh terhadap penggunaan kata-kata, bagaimana fakta-fakta atau ilmu yang ada di dalamnya bisa dipercaya?

Dalam dunia penulisan, ejaan bukan hanya latihan akademis untuk melatih mahasiswa atau pelajar. Ejaan memiliki porsi lebih serius, yaitu untuk menjamin kelangsungan hidup dunia pers yang penuh persaingan.

Ratusan, bahkan ribuan, kata diproses setiap hari di meja editor karena editor bertanggung jawab untuk menyaring kesalahan ketik yang terjadi pada naskah-naskah. Tapi karena keterbatasan diri, tidak mungkin ia bisa menyaring setiap kata, bahkan setiap kalimat, secara total. Karena itu seorang editor, perlu dituntut untuk selalu awas dan waspada ketika memeriksa naskah.

Kesalahan lain yang bisa terjadi adalah kesalahan pemakaian kata. Banyak orang atau penulis salah memilih kata-kata dalam percakapan atau pembuatan tulisan sehari-hari karena mereka memungut suatu kata tanpa mengetahui persis arti dari kata tersebut. Masalahnya, kesalahan dalam percakapan bisa dimaafkan dan dimaklumi, tapi kesalahan dalam penulisan bisa menimbulkan kesalahpahaman yang berekor-ekor.

Sebagai contoh, kata “utang” dan “piutang” hanya dibedakan dua huruf. Namun kalimat “Ia memiliki piutang banyak” dan “Ia memiliki utang banyak” sangatlah beda artinya. Andaikan tulisan ini muncul di surat kabar bisnis, pasti berabe urusannya. Kira-kira begitu.



Leave a Reply

Demos

Color Skin

Header Style

Nav Mode

Layout

Wide
Boxed