Gaya Freewriting

Mengenal Freewriting

Ada dua gaya menulis yang kita kenal di dunia ini. Yang pertama adalah gaya menulis “formal”. Sedangkan yang kedua adalah gaya menulis “bebas”. Kalau menggunakan gaya penulisan formal, maka kita harus memikirkan dengan baik apa yang harus ditulis, format tulisannya, penempatan titik-koma, pemilihan suku kata, referensi-referensi, dan “kebutuhan teknis” lainnya.

Gaya penulisan “formal” seperti ini sering kita temukan kalau kita mau menulis skripsi, laporan tugas sekolah, proposal mencari dana 17 Agustus, buku-buku ilmiah, dan tulisan-tulisan lain yang setara dengan itu.

Lawan dari gaya menulis “formal” adalah gaya menulis “bebas”, atau yang biasa disebut Freewriting. Intinya, semua kegiatan menulis yang kita lakukan kebalikan dari gaya menulis “formal” itu. Kita bebas-lepas mau menulis apapun yang kita mau, tanpa harus pening dengan pemilihan kosakata, penempatan tanda-tanda baca seperti titik-koma, dan tak terikat oleh tema tertentu. Apapun yang ada di otak, kalau bisa “dimuntahkan habis” dalam bentuk tulisan. Karena menggunakan pendekatan “menulis apapun yang terlintas di otak” maka gaya Freewriting ini biasa disebut dengan istilah prewriting. Diembel-embeli “pre” karena tulisan itu masih mentah, perlu “digoreng” ulang agar lebih “lezat” dibaca.

Jadi kalau kamu lagi bosan, termangu di meja makan, dan hanya ditemani oleh tumis kangkung, maka apapun yang terlintas di otakmu, entah kenangan makan steak atau roti-sumbu bareng orang tua, pengalaman itu lebih baik dituangkan dalam tulisan. Merasa tidak percaya diri dengan tulisan itu? Jangan khawatir, sebab nanti kamu akan mengenal bagaimana “membumbui” tulisan itu agar “tampak sedap” dan layak dinikmati oleh orang lain.

“Freewriting itu’ adalah proses menulis tanpa henti, tanpa proses editing, tanpa cemas tentang penggunaan kosakata atau tanda baca, tanpa berpikir serius, dan dilakukan dalam kondisi santai. Salah satu “peracik” ilmu freewriting adalah seorang Professor dari Universitas Massachusetts yang berdomisili di kota kecil bernama Amherst, daerah Hampshire County, di Amerika Serikat. Nama professor itu adalah Peter Elbow. Awal ia menciptakan metode menulis “bebas” ini diawali dengan pengalamannya sendiri yang unik. Ia sebenarnya adalah murid yang cerdas. Penulis buku berjudul “Writing Without Teachers” itu menceritakan bahwa ketika sekolah di Proctor Academy dan William College, dia termasuk anak cerdas dan sukses di sekolahnya, mengungguli anak-anak lainnya. Namun ketika sekolah di Universitas Oxford, “bencana” mulai menjemput pelan-pelan. Ia menyadari, setelah kuliah di situ, bahwa ia menjadi merasa sangat kesulitan menulis esai dan tugas-tugas yang diberikan oleh para pengajarnya. “Hambatan menulis” ini akhirnya menekan dirinya sehingga predikatnya di sekolah turun drastic dari anak yang cerdas dan pintar menjadi anak yang biasa-biasa saja. Penyakit “sulit menulis” ini bahkan lebih akut saat ia sekolah di Universitas Harvard.

Lantas setelah lulus, ia memilih untuk menjadi dosen di MIT (Massachusetts Institute of Technology). Di saat yang bersamaan, ia pun ikut merintis sebuah college yang diberi nama Franconia College dari tahun 1963-1965. Di situlah, di Franconia College, ia mendapat “pencerahan” bahwa terasa mudah melakukan proses tulis menulis apabila ia tahu bahwa tulisan itu akan dibaca teman-temannya sendiri di Franconia College. Tapi begitu ia menulis untuk guru-gurunya sendiri, ia malah merasa canggung dan otaknya menjadi “beku”.

Akhirnya ia menyadari, rasa takut menjadi salah satu penghalang untuk menulis. Bayangkan kalau Anda menulis untuk si pujaan hati. Anda bisa lepas bebas mengekspresikan apa yang Anda rasakan saat itu, baik rasa “cinta yang menggebu-gebu” atau “murka yang tiada tara”. Tapi begitu kamu terjepit pada formalitas dan harus menulis esai untuk gurumu, ceritanya mungkin lain.

Oleh karena itu, merasa relaks, santai, dan terbebas dari rasa takut merupakan salah satu syarat untuk memulai proses freewriting. Ketika menemukan ide cerita tentang Harry Potter, J.K.Rowling sedang dalam perjalanan 4 jam menumpang kereta api. Ide tentang anak kecil berjidat “petir” itu datang begitu saja ketika ia menikmati perjalanan. Suasana yang begitu santai dan relaks di dalam kereta itu memicu munculnya ide-ide yang walaupun acak namun acapkali bernilai tinggi. Ia baru menuangkan gagasannya itu ke dalam kertas begitu ia menemukan pena atau pensil—dan itu ia lakukan setelah kereta sampai di tujuan.

BACA JUGA: Otak Cemerlang Hati Riang dengan Gaya Menulis Freewriting

Perbedaan Antara Freewriting, Brainstorming, dan Automatic Writing

Pernah dengar brainstorming? Mungkin sudah. Tapi kalau Automatic Writing mungkin belum pernah tersentil dalam telinga. Freewriting itu tidak sama dengan brainstorming.  Memang prosesnya mirip, yaitu sama-sama “memuntahkan” apapun yang terlintas di otak dalam bentuk tulisan. Bedanya, kalau kita menggunakan metode brainstorming maka “muntahan” itu disajikan dalam bentuk poin-poin, yang seringkali satu dengan lainnya tidak saling bertalian. Sedangkan dalam freewriting, kita menuangkan ide-ide dalam bentuk paragraf yang terstruktur dan membentuk sebuah tema tertentu, walaupun tema itu sangat “mini” cakupannya.

Automatic Writing lain lagi. Istilah ini muncul pertama kali setelah George Hyde-Lees mengklaim bahwa ia bisa menulis secara otomatis. Maksudnya, istri W.B. Yeats (pembuat puisi dan dramawan abad 20) ini bisa menulis secara otomatis menggunakan pikiran bawah sadarnya tanpa kesadaran yang tinggi tentang apa yang sedang ia tulis itu. Umumnya, automatic writing ini lebih mengarah pada tulisan-tulisan “artistik” seperti puisi, kisah fiksi, dan lain sebagainya.

Freewriting tidak menggunakan pikiran bawah sadar. Sebaliknya, ketika kamu menuliskan apapun yang terlintas di otak, kamu dalam keadaan sadar. Bagaimana caranya menuangkan apapun yang terlintas di otak kalau Anda tidak sedang “menggunakan otak” itu?

Bagaimana Memulai Freewriting

Ingat kisah Peter Elbow di atas dan cerita tentang bagaimana J.K. Rowling menemukan ide-ide cerita tentang Harry Potter? Ya, mereka berdua sama-sama dalam kondisi relaks. Yang satu merasa “nyantai” karena ia menganggap, siapapun yang akan membaca tulisannya nanti adalah “teman-temannya sendiri”. Faktanya, orang yang disebut “teman-temannya” itu mungkin saja dosen-dosennya yang killer, kolega-koleganya yang cerewet, atau pembaca yang sering menuntut yang tak ia kenal sebelumnya. Tapi, ia menganggap mereka semua adalah “teman” sehingga ia bisa menulis dengan lebih santai. Jadi, syarat pertama untuk bisa memulai proses freewriting adalah: relaks atau santai.

BACA: Layanan Ghostwriting

Lantas? Kalau sudah santai, mulailah untuk menuangkan gagasan apapun yang kamu punya, sapu bersih kekhawatiran tentang masalah teknis seperti pemilihan suku kata, kosakata, peletakan titik-koma, dan ejaan-ejaan teknis yang harus dianut. Jadilah dirimu sendiri. Apabila kamu berhadapan dengan subjek tulisan yang “berat” dan sulit (berduri-duri), cobalah gunakan bahasa kamu sendiri untuk menjelaskan subjek tulisan itu. Takut salah? Jangan khawatir. kamu bisa mengeditnya nanti.

 



Leave a Reply

Demos

Color Skin

Header Style

Nav Mode

Layout

Wide
Boxed