Membangun Percaya Diri

Bagaimana ciri-ciri orang yang percaya diri? Ayo, kita lontarkan imajinasi kita dalam permainan Tebak PeDe! Aturan mainnya, beri nilai tinggi bagi orang yang tampak percaya diri dan beri nilai rendah untuk orang yang minderan.

Suatu pagi yang mendung, lewatlah seorang gadis tinggi semampai mengenakan gaun ungu-lembayung yang tampak bernilai tinggi jika berjalan indah di atas catwalk, tapi nilainya berkurang kalau ia melenggak-lenggok di atas trotoar becek. Sambil menjejakkan kakinya mantap diiringi bunyi bergemerincing dari gelang emas putihnya yang berlapis-lapis, gadis itu menyorotkan matanya yang beku dan misterius ke arah depan. Siapapun yang berani menatap mata gadis itu, menantangnya tak berkedip, akan mematung seperti patung Taman Safari.

Ia berjalan laju, sesekali menolehkan batang hidungnya yang ramping dan rata ke arah segerombolan lelaki yang mulai bergedebak-gedebuk, berjingkrak-jingkrak salah tingkah. Sambil diiringi siul-siul gerombolan lelaki iseng yang menyebalkan, ia melesat masuk ke dalam ruangan remang-remang yang diakhiri dengan bantingan pintu—bagian depannya terpaku papan yang ditulis dengan tinta emas, bunyinya: Direktur Eksekutif, Jangan Masuk Jika Tidak Perlu.

Sekarang, berapa nilai yang akan kamu berikan untuk gadis luar bisa itu? Apa nilainya 80, 90, atau 100? Sulit untuk dibayangkan jika kita memberinya nilai yang buruk bagi gadis berprestasi ini. Bukankah gambaran di atas mirip sekali dengan gambaran wanita ideal yang penuh percaya diri? Lantas, bagaimana dengan ilustrasi seperti ini?

Suatu pagi yang mendung, seorang gadis bergaun semi-luntur berjalan agak terseok-seok seperti tengkorak hidup. Ayunan tangannya saat melangkah tak berenergi dan terkesan terjangkit busung lapar yang gawat sementara punggungnya bungkuk ke depan, mungkin baru saja sebutir kepala tua menghantam punggungnya. Dua-tiga kali ia menengok ke kanan-kiri lewat sorot matanya yang keruh sambil sesekali menyeruput lendir yang keluar dari batang hidungnya yang ramping dan lurus seperti pasta abu-abu. Jika ada cowok iseng yang mau menyumbangkan sedikit siul-rayuan bagi dirinya, tentu ia akan lebih berbahagia lagi. Tapi, cowok-cowok itu justru bergidik, seolah-olah melihat mahluk yang baru saja mengalami malapetaka “Hidup Enggan Mati Tak Mau” yang membutuhkan pertolongan darurat.

Akhirnya, ia melangkah masuk ke ruangan yang penuh dengan sarang laba-laba, lembab, dan bau asap obat nyamuk sambil membanting pintu—di depannya bertuliskan: Ruang Penderitaan Batin dan Penyesalan. Berdiri Sejak Aku Lahir.

Sekarang, berapa nilai yang akan kamu berikan untuk gadis yang menderita batin luar-dalam ini? Apa nilainya 80, 90, atau 100? Sulit dibayangkan jika kita memberinya nilai tinggi untuk gadis yang perilakunya kontras dengan gadis pertama. Lantas?

Kalau kamu bisa membedakan mana orang yang percaya diri dan mana orang yang tidak percaya diri berarti ciri-ciri orang yang percaya diri itu bisa diamati, bukan? Benar. Orang yang percaya diri itu punya ciri-ciri yang spesifik. Kamu ingin tahu?

Pada tahun 1978, seorang ahli psikologi yang bernama Lauster memaparkan beberapa ciri orang yang percaya diri, yaitu: tidak mementingkan diri sendiri, cukup toleran, tidak membutuhkan dukungan dari orang lain secara berlebihan (aku tetap pada pendirianku menjadi seorang astronot meskipun tetanggaku bilang kalau aku sudah tidak waras), bersikap optimis, dan gembira.

Selain itu disebutkan bahwa orang yang percaya diri tidak perlu merisaukan diri untuk memberikan kesan yang menyenangkan di mata orang lain dan tidak ragu pada diri sendiri (aku yakin bisa menang turnamen pingpong meskipun lenganku masih sakit semenjak kuda ayahku menginjak tanganku sampai bunyi: “klotak”. Aku akan melatihnya setiap saat agar rasa nyerinya hilang dan tulang-tulangku kembali kokoh.Ada lagi tambahan mengenai ciri-ciri orang yang percaya diri. Kali ini ditemukan oleh ahli psikologi yang berbeda. Namanya Maslow.

Pada tahun 1971 dalam bukunya yang berjudul “The Third Forces: The Psychology of Abraham Maslow, ia menyebut ciri=ciri orang yang percaya diri adalah orang yang memiliki “kemerdekaan psikologis”, yaitu kebebasan mengarahkan pilihan dan mencurahkan tenaga, berdasarkan keyakinan pada kemampuan dirinya, untuk melakukan hal-hal yang produktif. Oleh karena itu, biasanya orang yang percaya diri menyukai pengalaman baru, suka menghadapi tantangan, pekerja yang efektif, dan bertanggung jawab sehingga tugas yang dibebankan selesai dengan tuntas.

Bagaimana orang yang memiliki percaya diri yang tinggi? Apa ciri-cirinya? Orang yang memiliki rasa percaya diri yang cukup tinggi akan bertanggung jawab terhadap keputusan yang telah ia buat dan mampu mengoreksi kesalahan. Terus bagaimana ciri-ciri orang yang percaya dirinya kurang? Biasanya orang yang kurang percaya diri cenderung tidak menarik, kurang menunjukkan kemampuan, dan jarang menduduki jabatan pemimpin. Rasanya, mengekor orang lain kemanapun ia pergi tampak jauh lebih aman dibanding harus menjadi yang terdepan.

Orang yang kurang percaya diri selalu saja merasa tidak puas dengan apa yang ada pada dirinya—berlebih atau diet ketat, suka mengantongi jimat-jimat, rajin modanr-mandir ke ruang operasi plastik tanpa alasan yang jelas, dan menyesali diri seumur hidup mengapa telinganya terlalu kecil—memiliki prestasi kerja yang rendah, cenderung malas dalam studi sehingga sering mengalami kegagalan—buat apa kuliah toh hidupku bagaikan sebutir bakteri di dalam cawan petri.

Dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, orang yang percaya diri biasanya akan lebih mudah berbaur dan beradaptasi dibanding yang tidak. Karena orang yang percaya diri memiliki pegangan yang kuat, mampu mengembangkan motivasi, ia juga sanggup belajar dan bekerja keras untuk kemajuan, serta penuh keyakinan terhadap peran yang dijalaninya. Berikut tersaji sebuah cerita luar biasa dari eks tetangga yang kini sudah hidup lebih makmur dan jaya.

Pak Jonatan merupakan pekerja tambang yang sukses, pemegang sabuk hitam karate. Ketika masih muda, sudah berpuluh-puluh kali ia pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, dari hutan yang penuh malaria sampai padang gurun yang dipenuhi oleh ular derik. Maklum, ia adalah seorang pekerja yang tugasnya menggali tambang-tambang mencari sesuatu dari dalam bumi. Sebelum cerita kita dimulai, ia pernah sebulan penuh bekerja di sebuah tambang minyak. Lokasinya di tengah lautan yang hanya dibatasi oleh warna biru pekat.

Jika ada sesuatu yang darurat, misalnya ketika Si Jabrik (bawahannya) mematahkan kakinya ketika ia secara tidak sengaja memutus tali yang mengikat pipa-pipa baja, ada sebuah helikopter yang siap menjemputnya. Kira-kira 3 jam waktu yang ditempuh helikopter itu untuk sampai ke lokasi tambang minyak sementara Si Jabrik hanya bisa menyumpah-nyumpah ketika petugas kesehatan membaringkannya di atas tandu. Selain itu, ada juga kapal tanker pengangukut minyak bumi yang datang sebulan sekali. Tapi, awak kapalnya sangat kasar sehingga teman-teman Pak Jonatan menyambutnya acuk tak acuh ketika mereka datang.

Seperti halnya nelayan ikan-ikan tuna yang sering menjelajah sampai ke tengah samudra, hidup di tengah laut bagi pekerja tambang juga akan dipenuhi oleh sejuta kejutan buruk. Sebab, bisa saja cumi-cumi raksasa menyerang tambang itu, meremukkan tiang-tiang beton seperti memeras spon, dan mencerna siapapun yang ada di sana.
Suatu waktu mungkin badai besar menyapu tempat itu, menyedotnya seperti vacuum cleaner yang langsung mengumpankannya ke dalam ombat yang bergejolak garang—kali ini pasti lebih mengerikan, sebab ikan pedang dan hiu macan bisa saja mencabik-cabiknya sampai beberapa potong kecil.

Di rumah, istrinya sering was-was apakah ia bisa melihat suaminya dalam keadaan utuh lagi atau tidak.
Satu-satunya hiburan bagi Pak Jonatan adalah ketika minyak bumi tiba-tiba menyembur dari pipa-pipa raksasa, seperti lahar hitam yang muncrat dari kawah gunung berapi, tinggi, semakin tinggi, dan menukik ke bawah mengguyur wajah-wajah penemunya—di sini, tidak ada TV Kabel. Ice skating pun tidak!

Tapi, semuanya telah berlalu sebab kini, ia telah diangkat sebagai direktur yang hanya duduk di ruang ber-AC dengan cahaya terang benderang. Di salah satu sudut tembok terpajang piagam eksklusif, bunyinya: Pegawai Teladan 2014. Tertanda Gleen Exlusio (CEO).

Singkat waktu, mereka pindah rumah ke kawasan elite yang dilengkapi dengan lapangan golf dan garasi berkapasitas 4 mobil, satu untuknya, sisanya untuk istri, anak, dan pembantunya. Karena pengalaman hidupnya telah panjang, baik manis maupun pahit, ia tidak canggung untuk beradaptasi dengan lingkungannya yang baru yang mayoritas penghuni-penghuni pro privacy dan tidak suka kasak-kusuk.

Untuk menciptakan hubungan lebih akrab dengan tetangganya, ia dan istri sepakat menyiapkan sepotong tart lapis selai kacang untuk masing-masing tetangga dan menyapa mereka dengan wajar. Karena percaya dirinya tinggi, ia cepat akrab dengan siapapun yang ada di situ, termasuk dengan Bu Darya yang suka mengintai mereka dari balik pilar bermotif wayang kulit yang ada di depan rumahnya sejak mereka pindah ke daerah itu.

Apabila seseorang memiliki percaya diri yang memadai, ia akan berani bertindak dan mengambil setiap kesempatan yang dihadapinya. Sebaliknya, orang yang tidak percaya diri akan bersikap malu-malu, canggung, dan tidak berani mengemukakan ide-idenya, serta hanya melihat dan menunggu kesempatan yang dihadapinya.

Jika Josh tahu kalau paru-paru ikan itu adalah “insang” dan bukannya “ginseng”, maka ia pasti akan segera meluncurkan jari tangannya ke atas sewaktu Pak Guru Bagyo menuliskan organ pernapasan ikan itu secara keliru. Tapi, karena rasa percaya diri Josh rendah, ia lebih memilih untuk menutup rapat mulutnya. Kalau sampai berani mengeluarkan “Aaa…” saja, teman-temannya pasti mengejeknya sok tahu dan carmuk. Padahal, kalau kita memang benar-benar percaya diri, maka kita tak perlu risau dengan ejekan-ejekan yang datang dari segala penjuru kelas.

Bagi orang yang percaya diri, ejekan dianggap sebagai sebuah perhatian ekstra—berarti teman-temanku masih menganggapku ada! Hebat lagi! Buktinya, mereka mengata-ngataiku “sok pintar” dan bukannya “sok tolol”.
Orang yang percaya diri cenderung realistis terhadap kemampuan dalam menerima diri sendiri dan mengharagi diri sendiri secara positif, yakin akan kemampuan diri sendiri tanpa terpengaruh oleh sikap atau pendapat orang lain, merasa optimis, tenang, aman, tidak mudah cemas, dan tidak ragu-ragu menghadapi permasalahan. Orang yang kurang percaya diri biasanya ragu-ragu dalam membuat keputusan, sehingga membuang-buang waktu, merasa rendah diri, merasa tidak aman (bagaimana kalau cowok-cowok lain mematahkan leherku kalau aku mengajak si Endang—runner up gadis sampul—makan malam di McD, ya?).

Akhirnya, ia menjadi seorang pengecut yang tidak berani mencoba, takut kalau-kalau ada sesuatu yang bisa mengantarnya ke unit gawat darurat. Apabila gagal dalam mencapai sesuatu, orang yang percaya diri rendah cenderung akan menyalahkan orang lain sebagai penyebab kegagalannya itu.

Frit si tukang-tuding mungkin tampak memiliki rasa percaya diri jika kita melihatnya sepintas lalu. Pakaiannya rapi, berhem klimis, lengkap dengan suspender segala dan senang memimpin rapat. Gairah belajarnya juga tidak usah diragukan lagi.

Tapi, begitu organisasinya berjalan tidak sesuai harapan, ia mulai menuding kesana-kemari deretan orang-orang yang ada di sekitarnya sebagai sumber dari malapetaka ini—Eko yang selalu telat mengumpulkan nota-nota, Dion yang suka mengigau ketika doa bersama, Cinderela yang tidak menulis proposal sesuai Ejaan Yang Disempurnakan, dan Broz yang suka menginterupsi rapat gara-gara selalu merasa ingin buang air kecil. Padahal, sebagai seorang ketua, hendaknya ia bisa memimpin anggotanya agar tertib dalam berorganisasi dan punya satu tujuan yang sama.

Rasa percaya diri yang tinggi bisa membantunya untuk memimpin bawahannya dengan baik tanpa merasa “nggak enakan” dan menyelesaikan semua tugas yang diembannya secara gemilang.



Leave a Reply

Demos

Color Skin

Header Style

Nav Mode

Layout

Wide
Boxed