Otak Kotor Entrepreneur

Ketika Los Angeles Times menulis berita berjudul “Colorado Firm Lays Claim to Goldmine”, sebuah artikel yang menceritakan merger antara Bendata Inc. of Colorado Springs dan GoldMine Software Corp, Jon V. Ferrara masih berusia 39 tahun. Sepuluh tahun sebelumnya, ia mendirikan GoldMine bersama Elan Susser dengan hanya bermodalkan USD 5000. Pada saat berita di atas ditulis, awal tahun 2000, nilai pendapatan tahunan GoldMine telah berhasil mencapai USD 52 juta.

Nimble Inc, salah satu situs buatannya, menjadi salah satu perintis Customer Relationship Management (CRM) via internet yang dibuat oleh Jon V. Ferrara tersebut. Yang menarik dari orang ini adalah, sebagai seorang pengusaha sukses, ia juga rajin berkebun. Pada suatu saat, pengusaha yang sekaligus part-time astronomer dan penikmat kopi sejati ini, pergi ke perkebunan kopi di Costa Rica. Alasannya? Selain karena suka dengan suasana perkebunan, alasan ia pergi ke tempat itu adalah untuk mengetahui bagaimana sebuah kopi dibuat dari mulai ditanam hingga berakhir di meja kerja.

Apakah hobinya berkebun itu merupakan salah satu penentu sukses ayah dari tiga orang anak ini? Bisa jadi begitu.
Ada penelitian baru yang berkembang di tengah-tengah para ilmuwan. Penelitian itu menegaskan kalau orang yang terlalu bersih justru akan membuat otak menjadi kurang bertenaga dibanding mereka yang berpikir untuk bermain di tempat yang kotor. Itu artinya, punya pikiran yang kotor, alias ingin bermain di tempat kotor, mampu memicu kekuatan otak.

Penelitian ini memang tidak menggunakan manusia sebagai bahan eksperimen, melainkan tikus. Dalam penelitian itu, si ilmuwan—bernama Dorothy Matthews—menghidangkan selai kacang yang sudah dicampur dengan bakteri tanah yang tidak berbahaya. Ternyata menurut pengamatan si ilmuwan yang bekerja di Sage Colleges New York, tikus itu berlari dua kali lebih cepat melalui labirin dan tampak senang melakukan hal tersebut.

Penelitian ini diungkapkan pada acara tahunan yang diselenggarakan American Society of Microbiology di kotak San Diego, California. Dalam risetnya itu, Matthews memberi si tikus sebuah hidangan, roti berwarna putih dengan sapuan selai kacang di atasnya. Roti putih ini digunakan sebagai reward atau hadiah untuk memicu tikus-tikus berlari di sepanjang jalur labirin. Ketika roti itu dicampur dengan sejumlah kecil bakteri berjenis Mycobacterium vaccae, ternyata Matthews menemukan fakta kalau si tikus berlari lebih cepat menelusuri jalur labirin dibandingkan tikus-tikus yang tidak diberi campuran bakteri. Ini mengesankan kalau bakteri tersebut sepertinya mempengaruhi otak si tikus untuk mempelajari jalur-jalur labirin lebih cepat.

Kembalilah ke alam. Berkebunlah, dan bersenang-senang sejenak di tengah hutan. Selain mendapatkan keheningan, bakteri-bakteri dalam tanah akan menyegarkan otak Anda. Jangan terlalu steril. Sekali-kali bermain kotor dengan membiarkan tanah-tanah menempel di sekujur tangan Anda. Kebiasaan hidup yang terlalu steril justru membuat otak kurang bertenaga.

Penelitian ini dilanjutkan hingga 6 minggu sejak Matthews menemukan kesimpulan awal dari penelitiannya itu untuk menjamin kalau apa yang ia duga tersebut benar-benar valid. Hasilnya, bahkan setelah si tikus itu tidak diberi roti berisi olesan selai kacang dengan “cita rasa” bakteri pun, hewan pengerat ini tetap tampak pintar menyusuri labirin hingga empat minggu ke depan.

Pada akhirnya, Matthews berpijak pada kesimpulan bahwa bakteri itu ternyata mempengaruhi otak dan meningkatkan fungsi kognitif pada mahluk hidup, termasuk manusia. Bakteri itu mempengaruhi area otak yang disebut hippocampus sehingga proses belajar si tikus menjadi meningkat. Tidak hanya itu, bakteri tersebut juga mempengaruhi mood tikus yang ditunjukkan lewat penelitian kalau tikus-tikus yang berbakteri itu tidak tampak tegang atau lebih tenang.

Apakah bakteri yang sama bisa mempengaruhi otak manusia? Mungkin saja, jelas Matthews. Kabar baiknya adalah, bakteri-bakteri ini mudah ditemukan di tanah.

Jadi, mulailah mengaduk-aduk tanah seperti bercocok tanam atau refreshing di hutan. Siapa tahu, secara tidak sengaja Anda “memakan” bakteri-bakteri itu dan oleh karenanya, otak menjadi lebih encer, tenaga menjadi lebih meningkat pesat, dan aktivitas bisnis pun akan semakin mudah dijalani.



Leave a Reply

Demos

Color Skin

Header Style

Nav Mode

Layout

Wide
Boxed