“Tidak” Bagi Jim Collins

Seringkali, aktivitas otak menjadi senyap dan tidak sanggup memicu kreativitas karena akibat satu faktor berikut: tiada faktor kemendesakan.

Kalau Anda pernah menjadi anak kecil di era tahun 80-an, pastinya tahu atau pernah dengar perangkat permainan bernama Atari. Pendirinya, Nolan Bushnell, dianggap salah satu dari “50 orang yang mengubah Amerika Serikat” versi Majalah Newsweek. Inilah yang ia katakan tentang kemendesakan, “Tanpa tekanan tenggat-waktu, segala sesuatu menjadi seperti tidak beraturan (kacau)’.

Repotnya, kreativitas dianggap sebagai proses tanpa batas dan tidak boleh dibatasi oleh apapun, termasuk tenggat-waktu. Oleh karena itu, seringkali kreativitas bukan aktivitas yang mendesak untuk dilakukan. “Ah, santai saja. Kreativitas kan butuh nyantai. Nggak bisa dipaksa-paksa”. Padahal, jika bicara tentang eksistensi sebuah perusahaan, kreativitas menjadi salah satu unsur penting. Bagaimana menjawab profesionalisme dunia kerja jika tidak ada tenggat-waktu. Klien ingin pekerjaan cepat selesai. Konsumen ingin masalah mereka segera dipecahkan. Stakeholder harus mendengar terobosan baru dari Anda. Dosen dan guru sekolah ingin Anda belajar secara cepat mulai dari Bab 1 sampai Bab 10 untuk ujian lusa.

Untuk menyelesaikan itu semua, dibutuhkan kreativitas dan secara bersamaan, membutuhkan tenggat-waktu yang ketat. Artinya, kreativitas haruslah dianggap sebagai proses yang mendesak!

 

Tujuan merupakan sebuah mimpi yang diberi tenggat-waktu—Napoleon Hill

 

Lantas, bagaimana caranya mengubah kreativitas dari sesuatu yang tidak mendesak menjadi sesuatu yang amat mendesak? Jawabannya hanya dua. Yang pertama, rutinitas dan yang kedua sistem kerja.

Bicara tentang sistem kerja, berarti bicara tentang bagaimana caranya menuntaskan tugas secara kreatif sesuai jadwal dan tekanan tenggat-waktu. Cal Newport, penulis buku “How to Be a High School Superstar” menyodorkan teori GCTD atau Getting Creative Things Done. Ia menyodorkan aneka rupa solusi. Pertama, di awal pekan, kita harus tentukan tugas atau proyek kreatif yang menyita paling banyak perhatian paling tidak dalam lima hari ke depan. Jadi di sini Cal menyarankan agar kita menyortir tugas. Tugas yang paling berat hendaknya diprioritaskan.
Lalu, buatlah aturan untuk berdisiplin diri. Misalnya, tulis aturan untuk diri Anda—atau kalau perlu anggota tim secara kolektif—berbunyi, “Tidak akan mengecek—bahkan melirik—BBM, status Facebook, atau Tweet baru selama waktu kreatif (pukul 9:00 hingga 12:00 dilanjutkan pukul 13:00 hingga 15:00). Berani melanggar, harus traktir teman-teman yang lain selama tujuh turunan!”.

Waktu untuk menyelesaikan proyek itu harus tercatat dan dianggap sebagai waktu yang sama pentingnya dibandingkan dengan meeting atau pekerjaan rutin lainnya. Sebab Paul Graham, seorang PhD dari Harvard University pernah mengatakan apabila pikiran tahu bahwa tidak akan ada gangguan yang menyela, pikiran tersebut dapat berproses ke tahap ideal untuk menghasilkan karya berkualitas tinggi.

Kalau sudah begini, kreativitas sudah identik dengan pekerjaan berbasis deadline. Supaya deadline itu tercapai, kita harus berdisiplin. Berani mengatakan “Tidak” untuk aktivitas-aktivitas lain pengganggu ritme kreativitas, bahkan jika muncul tawaran yang sangat ekstrim sekalipun. Jim Collins, pengarang buku “Built to Last” dan “Good and Great” mungkin bisa menjadi guru bagi siapapun yang ingin melatih diri mengatakan “Tidak”. Setelah bukunya terjual jutaan eksemplar di seluruh dunia, Jim Collins bertransformasi menjadi seorang pembicara sukses. Bayarannya hingga $60.000 per seminar. Pun begitu, ia malah membatasi diri dengan tidak menerima tawaran maju sebagai pembicara lebih dari 18 kali dalam setahun. Tujuannya, agar ia memiliki quality time untuk mengadakan riset dan menulis buku.

Padahal, jika ia “melanggar” komitmen tersebut dengan menyambut satu kali tawaran berbicara di seminar saja, ia telah mengantongi $60.000 lagi. Jumlah yang sangat banyak untuk pekerjaan satu hari. Tapi Jim Collins menggunakan salah satu senjata yang paling ampuh untuk menjaga ritme kreativitasnya. Senjata itu adalah, berani berkata “Tidak”. Dengan kata lain yang lebih menohok, berani berkata “tidak” merupakan bagian dari kreativitas.

Photo Credit: http://www.inc.com



Leave a Reply

Demos

Color Skin

Header Style

Nav Mode

Layout

Wide
Boxed