George Harrison dan Kreativitas

Kalau Anda pernah mengunjungi Iran, pastinya Anda pernah mencicipi Jalebi. Semacam wafel (kue “kerupuk”) yang terbuat dari adonan kue yang dipanggang hingga kering lantas dituangi sirup. Permukaannya agak kenyal dan ditaburi gula untuk memikat perhatian. Kudapan ini begitu populer di daerah timur tengah sehingga muncul beberapa alias di negara-negara sekitarnya. Orang Mesir, Lebanon, dan Siria memberinya nama Zalabia. Sedangkan di kepulauan Maladewa, namanya adalah “Zilebi”.
Zilebi bisa jadi lebih terkenal di dunia berkat hasil kreativitas seorang pembuat kue keturunan Siria bernama Ernest Hamwi. Ia bukanlah penemu resep pembuat Zilebi. Sebaliknya, ia pernah menulis surat pada tahun 1928 ke majalah Ice Cream Trade Journal setelah lama mendirikan perusahaan bernama Missouri Cone Company. Isi surat itu merupakan sebuah cerita bagaimana ia menemukan apa yang sekarang disebut dengan istilah ice cream cone, atau es krim yang diberi kerupuk kerucut di bawahnya. Ia menulis, hari-harinya dihabiskan untuk membuat zalabia dan ia datang membantu tetangganya, Arnold Fornachou, pemilik perusahaan pembuat es krim, yang sedang kewalahan karena pelanggannya melimpah dan ia kehabisan piring sajian. Saat itu sedang berlangsung acara bernama St. Louis Events di tahun 1904. Lantas, Hamwi pun menggulung salah satu zalabia yang ia miliki dan meletakkan es krim di atasnya. Tekstur keras dan hangat pada zalabia akhirnya bisa menahan es krim dengan stabil di atasnya. Mulai saat itu, di Amerika Serikat sendiri, “kerupuk” es krim ini telah diproduksi rata-rata 250 juta kerucut setiap tahunnya.

“Tidak ada cukup banyak sutradara Amerika yang berusaha menyutradarai film tentang Yakuza Jepang. Jika kamu mengkombinasikannya dengan sebuah fakta bahwa aku tak cukup bisa Bahasa Jepang dan ini adalah film independen yang aku biaya sendiri—orang-orang akan menjadi ingin tahu apa yang sedang aku kerjakan”—John Foster

Zalabi dan es krim merupakan dua produk yang berbeda secara prinsip. Yang satu es krim dan lainnya kerupuk. Tapi penggabungan keduanya menciptakan industri baru, yaitu kerupuk es krim yang saat ini kita jumpai dimanapun, mulai dari Baskin & Robbins hingga penjual es krim putar (berbahan baku parutan kelapa). Kreativitas yang dibentuk lewat “perkawinan” dua “objek” yang lain “karakter” sebenarnya bukan cerita baru. Awal abad kelima belas, Johannes Gutenberg menyatukan konsep mesin pemeras anggur dan alat pembuat lubang untuk menciptakan mesin cetak pertama. Sama seperti bensin yang tidak bisa dibakar tanpa kehadiran oksigen, penggabungan dua konsep, benda, objek, dan lain sebagainya bisa menciptakan “top-notch” produk yang gemilang.

Tidak sanggup menciptakan produk baru dari gabungan produk-produk yang sudah ada? Berpikirlah sederhana. Sebagai contoh, Anda bisa memadukan warna-warna ekstrim untuk menghasilkan suasana rumah yang kreatif dan unik. Bicara tentang cat rumah, maka bicara tentang “cita rasa wewangian” yang tercium begitu cat disapukan di dinding. Dulu untuk melenyapkan bau cat, kita harus “meramu” sesuatu. Bisa ramuan air dan garam lantas di letakkan di sudut-sudut ruangan atau meletakkan kulit jeruk, nanas, atau lemon ke segala penjuru rumah. Harapannya, air dan garam serta buah-buahan itulah yang akan menggantikan hidung kita mengendus aroma cat. Tapi sekarang, salah satu pabrikan telah menciptakan cat beraroma apel. Bahkan tidak hanya menawarkan semerbak wangi apel saja, cat buatan PT Gajah Tunggal Perkasa yang membidani cat merek “Property” ini juga diklaim mampu menyikat habis bakteri. Buah-buahan, racikan “obat” anti bakteri, dan cat tembok “dilumat” menjadi satu produk baru!

Film “Titanic” menggabungkan cerita tragis percintaan dan sejarah tenggelamnya kapal Titanic. Makanan tradisional Indonesia pun banyak yang merupakan hasil gabungan, misalnya nasi yang dicampur kunir hingga menciptakan nasi kuning. Ikan plus madu yang menghasilkan ikan bakar madu, dan banyak lagi.

Sekitar tahun 1965, beberapa musisi India sedang tampak “memamerkan” kepiawaian mereka “mencubit” alat-musik-menyerupai-gitar yang bernama Sitar di sebuah restoran. George Harrison, yang kebetulan melintas di depan restoran itu saat sesi syuting film “Help”, tercuri perhatiannya—terutama pada alat musik yang mereka mainkan itu. Pergi ke sebuah toko bernama “India Craft” yang ada di London, ia—yang tak tahu bagaimana persisnya memainkan alat musik itu—secara spontan menggerak-gerakkan jarinya berusaha menciptakan irama musik yang enak didengar, mengiringi sebuah lagu yang benar-benar baru hasil ciptaan John Lennon, lagu tentang—menurut pengakuan Paul McCartney—kisah seorang lesbian. Judulnya adalah “Norwegian Wood”. Lagu ini menjadi lagu pertama di dunia yang menggabungkan alat musik barat dan timur (diwakili oleh India) hasil penggabungan gitar dan sitar ala George Harrison.

Yang menarik adalah, acapkali kita tidak tahu bagaimana hasil dari penggabungan sesuatu. Sama seperti George Harrison yang hanya bertindak secara spontan saja, tanpa pernah tahu sebelumnya bagaimana irama Sitar mempengaruhi sebuah musik. Sejarah mencatat, tidak hanya Norwegian Wood saja yang “disusupi” irama Sitar semenjak itu, tapi juga lagu berjudul “Inner Light” yang dibawakan The Beatles—tempat George Harrison “mengabdi”—“Paint It, Black” yang dibawakan oleh Brian Jones, gitaris Rolling Stone, dan banyak lagi.



Leave a Reply

Demos

Color Skin

Header Style

Nav Mode

Layout

Wide
Boxed