Peluang di Tengah Kesulitan

Menemukan Peluang di Tengah Kesulitan

Keadaan yang sulit—misalnya di saat krisis—selalu menciptakan dua golongan. Golongan pertama adalah mereka yang gagal menemukan peluang di tengah kesulitan dan golongan kedua adalah mereka yang sukses menemukan peluang-peluang baru. Tapi masalahnya, golongan pertama memiliki populasi lebih banyak. Kesulitan selalu menimbulkan kegagalan dan mayoritas begitulah kejadiannya.

Namun karena pepatah Cina pun mengatakan bahwa di tengah krisis selalu ada peluang, dan banyak yang mempercayai serta membuktikannya, maka kita perlu mencari bagaimana caranya memperoleh peluang itu. Dalam artikelnya yang berjudul “Finding Competitive Advantage in Adversity”, Bhaskar Chakravorti menyoroti beberapa peluang yang dapat diperoleh di tengah beragam kesulitan.

Apa saja peluang-peluang tersebut, dapat dijelaskan sebagai berikut:

MEMADUKAN SUMBER DAYA YANG TIDAK DIBUTUHKAN DENGAN KEBUTUHAN YANG BELUM TERPENUHI

Krisis atau kesulitan dalam sebuah bisnis memang memiliki jangka waktu tertentu, bisa dalam bentuk krisis akut yang sulit diperbaiki dan tak jelas kapan “sembuhnya”, bisa pula berbentuk siklus seperti pepatah bagaikan roda berputar—ada sukses dan ada pula sepinya. Krisis juga bisa berjalan dalam masa yang lama serta sistemik (dipengaruhi oleh sistem-sistem bisnis lainnya misalnya trend teknologi, perubahan nilai-nilai hidup, dan lain sebagainya).

Walaupun dipengaruhi oleh waktu serta bentuk, namun krisis selalu menciptakan pola yang umum, yaitu terbuangnya sumber daya karena tak terpakai lagi. Misalnya, bisnis sewa mobil yang mengalami krisis akan menyebabkan pengangguran sumber daya dalam rupa mobil-mobil yang teronggok kaku.

Pengusaha yang jeli mungkin akan mampu menggabungkan sumber daya yang teronggok tak terpakai itu menjadi peluang-peluang baru yang bisa diperoleh di sekitar tempat ia hidup dan bekerja. Mungkin mobil itu bisa disulap menjadi mobil jenazah, ambulan, mobil kurir, dan layanan-layanan lain yang belum ter-cover dengan baik di kota tersebut.

MENGUMPULKAN DUGAAN-DUGAAN YANG TIDAK BIASA

Kesulitan bisa pula ditandai dengan ketidakhadiran beberapa faktor untuk menunjang sebuah bisnis. Misalnya, ketika Anda membuka pabrik di suatu tempat terpencil, Anda menemukan sebuah kenyataan bahwa di situ belum ada jalur distribusi yang matang untuk mengalirkan produk Anda ke toko-toko eceran. Atau bisa juga, faktor kunci itu sudah ada namun karena suatu sebab, Anda tidak bisa memanfaatkannya. Sebagai contoh pengusaha muda bermodal pas-pasan mungkin akan mentok di jalur distribusi besar karena para distributor mensyaratkan produk dalam jumlah banyak dan massal. Kesulitan-kesulitan ini, bagi para pengusaha yang kreatif, justru bisa memicu dirinya untuk mengumpulkan sumber daya-sumber daya lain yang tak terduga atau tidak umum.

Para pengiklan misalnya, ketika dihadapkan pada tarif konvensional yang mahal di surat kabar cetak dengan syarat-syarat tertentu yang ketat, beralih ke Google Adsense yang lebih fleksibel dalam pembayaran (tergantung berapa kali iklan itu dilihat atau diklik) serta berjangkauan lebih luas.

TEMUKAN SOLUSI SEDERHANA UNTUK MENGATASI MASALAH BESAR

Krisis menyebabkan sumber daya yang kita miliki menjadi tak terpakai. Dalam contoh di atas, teronggoknya mobil rental karena persaingan bisnis yang begitu hebat menjadi bukti bahwa seorang pengusaha yang nyaris bangkrut sebenarnya memiliki banyak sumber daya yang menganggur. Kalau sudah begitu, krisis seringkali membuat investasi atau produk yang telah kita miliki menjadi kurang bermakna atau tak berguna lagi.

Menyadari bahwa dunia buku konvensional perlahan-lahan akan tergeser oleh buku digital dan kehadiran produk digital menciptakan value baru di tengah para pembaca, misalnya harganya yang lebih murah, memaksa Amazon memikirkan solusi kecil untuk mengatasi banyaknya buku yang mereka jual saat ini. Terinspirasi oleh Netflix yang berhasil menyewakan DVD-nya, Amazon berpikir untuk membuka rental buku dimana para pembaca dapat “mengunyah” buku tanpa harus membeli dengan harga mahal. Dengan demikian, masalah besar yang mungkin akan menciptakan krisis di masa mendatang, yaitu turunnya minat terhadap buku konvensional karena harganya yang kurang kompetitif, dapat diantisipasi sejak awal.

PIKIRKAN PLATFORM BISNIS, BUKAN HANYA SEKEDAR PRODUK

Umumnya, krisis bersifat multifactor, yaitu mempengaruhi banyak hal, seperti berimbas pada industri-industri lain yang saling terkait. Sebagai contoh, turunnya minat masyarakat datang membeli buku ke toko buku akan mengakibatkan industri-industri lain ikut terimpas, mulai dari distributor, penerbit, percetakan, hingga penulis. Masalahnya, bukan berarti masyarakat tidak membutuhkan buku. Buku adalah produk ilmu pengetahuan sehingga bisa jadi, buku fisik tidak dicari lagi namun ilmu pengetahuan yang ada di dalamnya masih diburu sampai kapanpun. Penilaian ini, yaitu menyalahkan buku sebagai sumber utama terjadinya krisis, akan mengakibatkan terjadinya bias yang serius, dianggap sebagai faktor utama yang menyebabkan rentetan krisis untuk sektor bisnis lainnya yang terkait. Akibatnya, buku—dan beserta ilmu pengetahuan yang ada di dalamnya—ikut musnah ditelan krisis.

Oleh karena itu, para pengusaha manapun disarankan untuk tidak terlalu memfokuskan diri pada produk. Mengapa? Karena produk bisa berubah bentuk. Sebaliknya, fokus bisnis lebih mengarah pada sebuah platform atau dasar industri itu sendiri alih-alih hanya berpaku pada sebuah produk. Buku bisa diubah menjadi media digital. Jaringan distribusi bisa “dimodifikasi”, artinya perusahaan wajib mencari jalur lain yang sifatnya non konvensional, seperti distribusi digital misalnya. Salah satu jalannya, hubungi Apple Store agar ilmu pengetahuan digital itu bisa didistribusikan via iPad atau iPhone. Jika produk dan jaringan distribusi sudah berubah bentuk, sekarang giliran toko buku yang bisa disulap menjadi sebuah aplikasi online store semacam Scoop atau Wayang Force. Dengan berpikir secara platform seperti ini, bisnis buku tetap berjalan walaupun dengan bentuk yang berbeda dan mungkin justru menemukan ceruk baru.



Leave a Reply

Demos

Color Skin

Header Style

Nav Mode

Layout

Wide
Boxed