Plan B yang Masih tetap Relevan

“Kamu dilahirkan untuk menang, tapi untuk menjadi pemenang, kamu harus punya rencana untuk menang, mempersiapkan diri untuk menang, dan mengharapkan kemenangan” – Zig Ziglar

 

Suatu saat, CEO Nokia Stephen Elop, diwawancarai oleh CNBC. Ketika itu muncul pertanyaan dari reporter, apa rencana ‘B’ (Plan ‘B’) atau rencana cadangan yang akan dilakukan oleh Nokia jika Windows Phone 7 tidak dapat diterima pasar. Dengan santainya Elop menjawab, “Rencana ‘B’ adalah memastikan kalau rencana ‘A’ berjalan dengan sangat sukses”.

Nokia memang perlahan namun pasti meninggalkan symbian, operating system yang telah “menemani” Nokia selama bertahun-tahun. Merasa kalau Symbian sudah mulai uzur, menengoklah Nokia ke sistem operasi alternatif yang lebih modern, yaitu Windows Phone 7. Namun banyak orang tetap pesimis jika operating system “karangan” Microsoft ini bisa menandingi iPhone, Blackberry, atau Android yang semakin berjaya itu.

INSPIRASI UNTUK DUNIA KERJA

Rencana “B” penting untuk dibuat. Ibaratnya mobil yang melaju, jika terjadi gangguan pada mesin, mobil itu tidak macet terlalu lama. Bisnis pun, jika rencana awal mengalami goncangan, akan terhenti beberapa saat. Lamanya sebuah rencana terhenti tergantung pada persiapan Anda menjalankan rencana “B”. Tanpa rencana “B”, bisa jadi bisnis itu akan berhenti total.

Karena ada pesimistis itulah, CNBC “menyelidiki” jika-jika ada rencana cadangan yang akan dijalankan kalau Nokia Windows Phone 7 ditolak pasar. Ternyata tidak ada!

Kata orang bijak, kalau mau sukses mulailah dengan menyusun rencana. Tidak memiliki rencana merupakan salah satu bentuk rencana untuk gagal. Rencana membuat perhatian kita menjadi fokus. Kalau berencana pergi ke Ancol, maka fokus kita ke situ dan tidak tengak-tengok ke tempat yang lain. Oleh karena itu, rencana selalu dijadikan “pijakan” untuk produktif. Ada rencana, maka ada program kerja yang terukur. Tanpa rencana, kerja menjadi tak terarah dan asal-asalan.

Tapi masalahnya, rencana membawa semacam “ilusi”. Maksudnya? Jika rencana itu gagal, apa yang harus dilakukan? Jika Anda tak tahu apa yang harus dilakukan, maka yang terjadi adalah terjebak dalam kondisi “stuck” atau macet. Anda akan terjangkiti penyakit “don’t know what to do” alias tak tahu apa yang akan dilakukan. Jika pergi ke Ancol dan tiba-tiba ban meletus di tengah jalan, mungkin Anda mempertimbangkan untuk mengganti ban itu. Tapi jika yang rusak adalah mesinnya dan Anda tak punya rencana apapun (misalnya, nomor telepon bengkel terdekat) jika mesin itu mati, apa yang Anda lakukan? Diam dan bingung.

Nah inilah yang membuat produktivitas menurun karena Anda tak tahu solusi yang cocok jika rencana semula hancur berkeping-keping. Oleh karena itu, buatlah rencana ‘B’, yaitu rencana cadangan yang menjamin Anda tidak “stuck” terlalu lama.

Cara paling efisien untuk membuat rencana “B” adalah dengan menggunakan metode brainstorming. “Muntahkan” semua hal yang mungkin terjadi selama Anda menjalankan rencana “A”. Sebagai contoh, rencana launching produk di sebuah hotel mengarahkan kita pada kata kunci-kata kunci, “komputer rusak”, “sound system gagal berbunyi”, “pembicara terlambat datang”, “SPG tidak mengenal produk dengan baik”, “terjadi permintaan yang melebihi kapasitas”, dan seterusnya. Tetap fokus pada rencana “A” tapi uraikan apa saja yang bisa menghalangi suksesnya rencana “A” itu.

Atasi penghalang-penghalang itu. Hasilnya, Anda akan mendapat banyak sekali rencana “B”.
Kalau sudah begini, produktivitas kerja tetap tak akan terganggu walaupun rencana berjalan penuh hambatan.

 

INSPIRASI UNTUK DUNIA SEKOLAH

Target kuliah bisa saja meleset. Mungkin, Anda punya rencana untuk menyelesaikan kuliah selama 3.5 tahun namun Anda menyadari biaya sangat penting untuk meraih target “ketat” itu. Tanpa biaya yang cukup, Anda bisa “cuti” belajar yang membuat periode lulus menjadi lebih lama. Kalau sudah begini, siapkan rencana “B” jauh-jauh hari, misalnya mencari beasiswa atau bekerja paruh waktu.



Leave a Reply

Demos

Color Skin

Header Style

Nav Mode

Layout

Wide
Boxed