Cara Otak Mengalirkan Ide-Ide Baru

Teknik Terbaik Mengalirkan Ide tanpa Batas

Seringkali otak melontarkan ide yang tidak karuan, tidak bisa diprediksi sebelumnya, dan secara personal tidak kita harapkan. Sebagai contoh, kamu harus menulis saat ini juga—menulis lepas bebas, apapun yang kamu mau—dan “bahan dasar” yang ada di otakmu hanyalah ide tentang seekor kodok. Lantas? Alih-alih bersikap menghindar dan mencoba mengalihkan tema tulisan, misalnya tema “kodok” berubah menjadi tema “ikan koi”, lebih baik kamu “bersahabat” saja dengan tema yang terlontar dari pikiranmu itu.

Ada banyak metode bagaimana mengembangkan ide yang secara umum tidak kamu kehendaki. Bayangkanlah kamu sedang berdialog dengan orang lain, misalnya pembantu setia yang telah menemanimu puluhan tahun. Suatu hari ia berkata, “Ini kodok yang kamu minta”. Kamu pun menjawab, “Oh, aku tidak membutuhkan kodok!” Lantas? Cerita pun terhenti, tidak berkembang, dan selesai sebelum waktunya. Sebaliknya, kalau kamu menjawab, “Oh ini dia yang kita cari. Sekarang, kita tampaknya bisa menikmati sweekee yang hangat.” Atau menjawab seperti ini, “Kini saat yang tepat untuk menguji eksperimen Frenkenstoad. Kodok ini akan menjadi zombie”. Kalau sudah begini, cerita pun berkembang dan kamu bisa menulis hal-hal seru seputar sweekee atau cerita seram ala Frankenstoad (Frankenstein tapi ber-genre kodok).

Inspirasi

Setujuilah sesuatu walaupun asing rasanya agar otak mencari cara yang tiada habisnya untuk memasok ide-ide baru

Menulis menggunakan gaya freewriting seringkali menuntut kita melihat sesuatu memakai “kacamata” atau perspektif orang lain. Ibaratnya, meminjam kecerdasan orang lain dan berusaha mengatasi masalah lewat gaya pikir orang lain. Pada contoh di atas, walaupun kamu tidak begitu memahami dunia perkodokan, tapi kamu bisa mengungkapkan perasaanmu terkait masakan berbahan baku kaki kodok yang disebut sweekee itu. Kamu bisa tulis betapa gurihnya—atau menggelikannya—kaki kodok jika diberi bumbu tepung ala ayam cepat-saji. Atau kamu juga bisa mengembangkan cerita tentang eksperimen-eksperimen bedah-kodok untuk kisah fantasi.

Lantas bagaimana agar tulisan itu berkembang dan tidak menjadi hambatan? Cara paling praktis adalah, kamu harus setuju dengan ide itu terlebih dulu. Berbisik dalam hati dengan mengatakan, “aku tidak tahu apapun tentang kodok”, akan mematikan imajinasi otak untuk mengembangkan ide-ide tambahan. Kamu pun akan berhenti atau tidak menulis sama sekali.

Jadi, kamu harus setuju dengan tema dasar itu terlebih dulu. Kalau kamu sudah setuju dengan tema dasar itu, kembangkan tema itu. Tulislah apapun yang kamu ketahui. Atau kamu ciptakan sendiri pengetahuan-pengetahuan baru terkait dengan tema dasar yang sedang kamu kembangkan itu. Kembangkan pertanyaan, “apa yang kira-kira akan terjadi selanjutnya ya?” Sebagai contoh, kamu bisa bertanya kepada otakmu sendiri, “apa yang kira-kira akan terjadi kalau kodok itu kita tanami microchip pengontrol perilaku?” Otak—seberapa terbatasnya informasi yang dimilikinya—akan berusaha mencari jawabannya dalam bentuk rentetan jawaban yang semenarik mungkin.

Inspirasi

Otak sangatlah fleksibel–organ ini dapat merekam keahlian-keahlian orang lain apabila kita mempelajarinya dengan tekun.

Langkah berikutnya, untuk sepuluh atau dua puluh menit kemudian, “merasuklah” ke “raga” orang lain. Atau dengan kata lain, berpikirlah kalau kamu adalah orang lain. Misalnya, bayangkan kalau kamu adalah seorang wanita bernama Chiko, seorang masterchef spesialis masakan Cina yang gemar meramu resep kodok. Atau, bayangkan kalau kamu adalah Wadercetolus ilmuwan-nekad-setengah-gila keturunan Kaisar Romawi yang rajin menciptakan eksperimen kontroversial, termasuk membangkitkan kodok yang telah mati. Berperan sebagai orang lain menciptakan perspektif baru, suatu cara untuk mengungkapkan ide-ide sebagai tokoh yang sama sekali berbeda.
Sebagai Chiko, apa yang akan kamu lakukan terhadap kaki kodok? Memasaknya dengan tepung terigu, mengolesinya dengan ramuan teriyaki, atau membumbuinya dengan wasabi. Sebagai seorang keturunan Kaisar Romawi bernama Wadercetolus, apa yang akan kamu lakukan terhadap kodok yang sudah mati? Mengejutkan otot-otot kodok dengan listrik bertegangan tinggi atau mencari cara mengontrol aliran pencernaan dengan tabung-tabung rahasia?

Kamu berhak menentukan cerita sendiri. Tiap-tiap cerita akan berakhir dengan cara yang berbeda tergantung peran yang sedang kamu mainkan. Bahkan, kalau kamu sedang memerankan tokoh seorang konsumen yang datang ke restoran penyedia menu sweekee, ceritapun akan berbeda seratus delapan puluh derajat. Kamu bisa membandingkan rasa sweekee itu dengan resep yang kamu temukan di restoran lain di luar negeri.

Bagaimana Caranya Mengalirkan Ide-Ide Baru

Pikiran yang mengalir, terlebih jika arusnya deras, merupakan modal awal terciptanya Freewriting. Kalau tiba-tiba otakmu melontarkan ide dasar yang benar-benar tak terduga dan di luar harapan, mulailah dengan sebuah masalah. Masalah apapun bisa kamu kembangkan, dan ajukan pertanyaan, “apa yang kira-kira akan terjadi kalau…”.

Inspirasi

Agar ide-ide baru mengalir deras, tanyakan ‘what-if’ terus menerus–apa yang terjadi jika ….

Lantas, biarkan pikiranmu bermain-main, mulai dari berganti peran sampai merekayasa agar ide dasar itu menjadi lebih menarik. Kalau kamu mengijinkan pikiranmu untuk bermain-main, kamu bisa temukan ide-ide yang menarik sebanyak apapun yang akan kamu butuhkan.



Leave a Reply

Demos

Color Skin

Header Style

Nav Mode

Layout

Wide
Boxed