Seni Bernama Kecepatan

“Bijaksanalah terhadap kecepatan; seorang dungu (berkecepatan) empat puluh adalah memang benar-benar orang dungu”—Edward Young

 

Kalau otak Anda tiba-tiba “berkontraksi” karena ada ide bagus yang mendadak akan “diproduksi”, wujudkanlah ide itu secepatnya. Paling tidak ada tiga alasan mengapa Anda tidak boleh menunda-nunda implementasi ide bagus. Pertama, supaya orang lain tidak mendahului Anda. Kedua, supaya Anda tidak lupa. Ketiga, supaya semangat Anda tidak pudar sebelum ide itu terwujud. Marilah kita bahas alasan pertama saja, yaitu “siapa yang pertama kali menemukan apa”.

Elisha Gray merupakan salah satu anggota istimewa jemaat di gereja Presbyterian. Menjelang berakhirnya tahun 1874, Gray mendemonstrasikan ke depan publik hasil temuannya yang baru, alat penghasil suara musik elektronik pertama di dunia, menggunakan sirkuit electromagnet yang bergetar.

Penemuan itu dianggap fenomal karena menjadi alat pertama di dunia yang mampu mentransmisikan nada-nada musik melalui kabel telegram. Namun yang menarik dari Elisha Gray sebenarnya bukanlah penemuan musik elektronik pertama di dunia itu. Kontroversi tentang siapa penemu telepon pertama antara dirinya dan Alexander Graham Bell malah lebih mengundang kontroversi. Banyak yang menduga bahwa patent jatuh ke tangan Bell karena ia datang lebih dulu beberapa jam ke kantor pendaftaran hak patent sebelum Gray tiba.

Namun, lewat pembelaannya, pendukung Bell mengklaim bahwa cara kerja telepon hasil temuannya berbeda—walaupun tampak mirip—dengan desain yang dirancang oleh Gray. Terlebih, Amerika Serikat mengadopsi prinsip “first to invent” dalam pengurusan patent. Itu artinya, entah siapa yang datang duluan, baik Bell maupun Gray, yang mampu membuktikan bahwa dirinyalah yang menemukan pertama kali, ia yang berhak memenangkan patent.
Akan tetapi, walaupun Amerika Serikat dan juga banyak negara sudah mengadopsi prinsip “first to invent” tetap saja Anda tidak boleh “berjalan merangkak” untuk segera melindungi hasil temuan Anda dalam bentuk patent. Dari ide bergerak menuju implementasi membutuhkan banyak proses.

Distribusi proses inilah yang terkadang tidak steril. Siapa tahu, ada orang yang siap mencuri ide-ide itu dan datang ke kantor patent sambil membusungkan dada-mengklaim bahwa ia yang menemukan sebuah alat, bukan orang lain. Dalam sejarah, banyak sekali kontroversi tentang “siapa menemukan apa yang pertama kali”. Misalnya saja, sebuah buku terbitan Filipina menulis bahwa penemu lampu fluorescent pertama di dunia bukanlah orang barat, namun orang berkebangsaan Filipina bernama Agapito Flores.

Menurut rumor yang beredar, Flores menjual hasil penelitiannya itu ke General Electric. Kontroversi ternyata tidak berhenti di situ saja sebab masih banyak nama lain terkait dengan penemuan fluorescent ini, mulai dari Heinrich Geissler, Nikola Tesla, Peter Cooper Hewitt, hingga Edmund Germer yang akhirnya diakui sebagai penemu lampu fluorescent modern.

Newton dan Leibniz pun mengalami hal yang sama tentang siapa yang menemukan teori Calculus. Yang akhir-akhir ini cukup kondang adalah kontroversi tentang siapa yang mengembangkan Facebook pertama kali. Yang kita tahu, Mark Zuckerberg adalah founder Facebook. Tapi, sejarah seringkali membuat bumbu-bumbu kontroversi menjadi lebih pedas. Delapan bulan sebelum Facebook diluncurkan di dunia internet, seorang mahasiswa Harvard University mempublikasikan situs yang dinamai houseSystem. Aaron Greenspan, nama mahasiswa itu, menciptakan sistem tersebut untuk membantu banyak mahasiswa Harvard mengelola tugas-tugas yang berkaitan dengan kuliah. Di antara mahasiswa yang menggunakan layanan itu, tercatatlah Mark E. Zuckerberg sebagai salah satu pemakai perdana.

Pada tanggal 19 September 2003, Greenspan mengedarkan email berisi fitur baru yang akan ditambahkan di dalam sistem houseSystem, yang ia beri nama “the Face Book”, yang berfungsi untuk mempercepat proses menemukan lokasi mahasiswa lainnya. Empat bulan kemudian, Zuckerberg menciptakan situs sendiri bernama “TheFacebook.com”. Kelak, sistem yang dibangun oleh Zuckerberg ini menarik perhatian Greenspan yang menyarankan agar Zuckerberg mengintegrasikan layanan TheFacebook.com ke dalam sistem houseSystem. Tapi Zuckerberg menolak.

Yang paling menarik dari kisah ini sebenarnya siapa yang pertama kali membawa ide tentang sistem Facebook ke Silicon Valley, mencari dukungan dana untuk mengembangkan sistem itu menjadi bernilai jutaan dollar. Zuckerberg pun menjadi pemenangnya. Cerita pun berkembang dan sekarang kita mengenal Zuckerberg sebagai pencipta sistem Facebook alih-alih Aaron Greenspan.

Karena ide bisa menjadi investasi jutaan dollar, maka penting untuk melakukan dua hal, pertama segera melindunginya dalam bentuk patent. Atau jika Anda masih mengembangkan ide itu agar menjadi lebih sempurna, minimal Anda “tutup mulut” terlebih dulu, tetap menyimpan rahasia ide itu. Siapa tahu, teman terbaik Anda justru yang memenangkan patent tersebut.



Leave a Reply

Demos

Color Skin

Header Style

Nav Mode

Layout

Wide
Boxed