Mengelola Rasa Takut

Kamu takut tikus? Jangan khawatir sebab kamu tidak sendirian. Hampir semua orang—terutama gadis remaja—sangat jijik terhadap mahluk pengerat ini. Tapi jika ada pria dewasa yang sungguh “histeris” ketika melihat tikus, mungkin ia adalah seorang creator tokoh tikus paling terkenal di dunia, yaitu Walt Disney. Mengapa rasa takut pada tikus yang dialami Walt Disney terasa aneh? Ya karena ia adalah lelaki dewasa yang secara fisik sangat gagah dan karena ia adalah pencipta karakter Mickey Mouse yang begitu trendi itu.

INSPIRASI
“Benci pada sesuatu? Ubahlah menjadi rasa cinta.”

Terasa ganjil bukan? Mungkin. Tapi Walt Disney tidak sendirian. Ada lagi tokoh yang sebenarnya merasa takut pada sesuatu tapi justru ia manfaatkan rasa takut itu untuk berkarya. Contoh lainnya adalah Stephen King, penulis spesialis cerita-cerita seru dan bergidik yang kerap dikaitkan dengan “hobinya” yang selalu membuka tirai shower kamar mandi karena ia berpikir, ada sesuatu yang mengerikan yang bersembunyi di balik tirai tersebut.
Mungkin kamu terheran-heran mengapa ada orang yang takut sesuatu tapi justru menciptakan ketakutan itu dalam bentuk karya? Psikiater kondang bernama Sigmund Freud punya jawabannya. Ia adalah seorang neurologis yang biasa mengobati orang sakit syaraf. Salah satu karya terkenalnya adalah psikoanalisa. Nah, di salah satu teorinya itu, ia menciptakan konsep yang disebut “mekanisme pertahanan diri”. Sebenarnya ada banyak poin di dalam “mekanisme pertahanan diri” ini. Tapi yang paling pas untuk kasus Walt Disney dan Stephen King adalah mekanisme pembentukan reaksi. Maksudnya?
Artinya, mekanisme ini bekerja dengan cara mengubah dorongan yang awalnya tidak dapat diterima menjadi kebalikannya. Bahasa gaulnya, “benci jadi rindu”. Nah, si Walt Disney ini awalnya benci sama sosok tikus. Tapi untuk mengatasinya, ia mengubah rasa benci itu menjadi “rindu”. Akhirnya, lahirlah sosok Mortimer yang kemudian dikenal dengan nama Mickey Mouse. Begitu pun Stephen King. Gara-gara “benci” dengan rasa takutnya, ia mengubahnya menjadi “cinta” pada situasi yang menyeramkan.
Jadi jika besok kamu menemukan dirimu benci pada sesuatu, lebih baik jangan mengeluhkan hal itu. Kamu bisa mengubahnya menjadi sesuatu yang justru kamu cintai. Benci belajar? Siapa tahu kamu malah cinta belajar. Benci matematika? Jangan khawatir. Suatu saat, lewat proses yang berkembang, kamu bisa lebih jago matematika. Begitu seterusnya. Jadi, lawan rasa takutmu itu!

Hasrat untuk Mencari

“Seorang manusia menempuh perjalanan keliling dunia untuk mencari apa yang ia butuhkan dan kembali lagi ke rumah menemukan yang ia butuhkan itu.” – George Edward Moore

“Orang yang menguasai banyak informasi, akan menguasai dunia.”
Seringkali, internet mengandung “candu”. Dan karena hampir sebagian besar pekerjaan terkait dengan internet—atau paling tidak memanfaatkan komputer yang terhubung dengan luasnya dunia maya—maka sangat penting untuk menyadari kalau internet bisa menurunkan produktivitas.
Sebagai contoh, Google. Anda bisa mencari apapun di Google. Masalahnya, pada titik tertentu, Google bisa membuat Anda begitu kecanduan. Seperti digelayuti perasaan, “tak pernah merasa puas berburu informasi” bahkan hanya demi memperoleh informasi-informasi yang tidak penting sama sekali.
Jaak Panksepp, seorang ahli syaraf dari Universitas Washington pernah mengadakan penelitian yang menunjukkan kalau “mencari” adalah “nenek moyang” sistem kehidupan manusia dan mamalia pada umumnya. Mamalia itu—termasuk orang di dalamnya—lebih suka “mencari makanan” daripada “makanan itu disodorkan kepada mereka”. Oleh karena itu, “mencari” merupakan salah satu bagian dari kesenangan dan survival. Dalam tataran emosional, Jaak Panksepp mengatakan kalau merujuk pada sosok manusia, hasrat mencari ini tidak hanya semata-mata digunakan untuk “mencari makan” tapi juga untuk menambah ide-ide baru, menciptakan intellectual connections, dan mencari makna terhadap sesuatu.
Benar yang dikatakan oleh Nicholas Carr salah satu penulis artikel The Atlantic. Ia pernah menulis dalam artikelnya yang berjudul “Is Google Making Us Stupid?” Menurutnya, kita tak bisa membuat tulisan panjang karena pikiran kita begitu “dijajah” oleh proses pemburuan informasi di internet yang tak pernah habis. Akibatnya, perhatian kita menjadi “tak berjangka panjang”. Kalau sudah begini, sulit menjamin kalau kita berhasil menciptakan tulisan yang panjang secara konstan. Mengapa? Pertama, karena pikiran Anda tiba-tiba terpecah oleh hasrat mencari. Baru bekerja sedikit, langsung muncul keinginan untuk cari informasi selebritis, film-film terbaru, gosip politik, status teman-teman, dan lain sebagainya. Kedua, karena pada hakekatnya kita merasa tak pernah puas dengan informasi yang berhasil kita temukan. Kita cenderung mencari informasi apapun meskipun informasi itu tak dibutuhkan. Hasilnya, selain konsentrasi terpecah belah, waktu pun terhambur percuma.
Kalau sudah begini, kita membutuhkan kemampuan untuk kontrol diri yang sudah dibahas di bab lain. Kalau tidak ada kontrol diri, internetlah yang akan mengontrol hidup kita.

Inspirasi untuk Dunia Kerja

Dunia informasi kadang-kadang menyesatkan. Pepatah mengatakan, “orang yang menguasai informasi akan menguasai dunia.” Masalahnya, manusia tak akan pernah berhenti mencari informasi baru, termasuk informasi sampah sekalipun. Kalau sudah begini, bukan Anda yang menguasai dunia, tapi dunia yang menguasai Anda. Google, Bing, Yahoo, dan situs-situs pencarian, portal, serta situs berita lainnya akan menargetkan Anda sebagai pasar yang potensial. Seharusnya, kita gunakan situs-situs itu untuk mencari uang dan bukannya mereka mengeruk uang sebanyak-banyaknya dari kita. Cobalah ketika bekerja, kontrol diri Anda untuk “membatasi” informasi.

Inspirasi untuk Dunia Sekolah

Orang yang rajin mencari “ilmu” belum tentu orang paling pandai di sekolah. Bisa jadi, mereka termasuk golongan orang yang paling tidak efisien. Kata kuncinya, habiskan waktu untuk mencari apapun yang relevan dengan studi. Berusaha menguasai sebanyak mungkin informasi tidak akan pernah berhasil dan membawa impact apapun. Informasi jauh lebih cepat berkembang dibanding kemampuan daya tampung pikiran manusia. Jadi, belajarlah untuk berkonsentrasi. Carilah materi yang benar-benar Anda butuhkan.

BACAAN LEBIH LANJUT

Demos

Color Skin

Header Style

Nav Mode

Layout

Wide
Boxed