Fidget Spinner, (Mungkin) Bisa Membuat Kita Lebih Pintar

Kalau anak Anda merengek untuk sebuah Fidget Spinner (dijual di Indonesia mulai dari harga Rp. 35.000), maka mungkin Anda tak bisa menolaknya. Itu karena argumentasi yang dibangun si anak adalah bahwa alat seperti gasing berputar itu dapat meningkatkan konsentrasi, menghilangkan kegelisahan, dan pada akhirnya, membuat mereka dapat belajar lebih keras dan tekun.

Diceritakan ada seorang bernama Skip Suva yang terobsesi dengan fidget spinner, sehingga dijuluki fidgeter. Ketika bekerja dengan bertumpuk-tumpuk dokumen, dia mengaduk-aduk dokumen itu tanpa henti. Saat memulai karir sebagai programmer tahun lalu, dia mulai mengutak-atik SD Card Reader yang dapat mengeluarkan suara lucu yang menyenangkan “dengan cara mengeluarkan kartu SD dan mengkliknya kembali”.

Kebiasaannya bermain fidget spinner tampak seperti tingkah laku yang membuang-buang energi, kata Suva mengakui. Tapi kegiatan tersebut membantunya fokus dan menghilangkan kegelisahan. “Ketika otak saya bergerak jauh lebih cepat dari jari-jari saya,” katanya, “rasanya saya membutuhkan sesuatu untuk menenangkan diri.”

Baru-baru ini, Suva membeli alat hanya untuk menghilangkan rasa gelisahnya: The Fidget Cube, nama alat itu yang dibuat oleh Antsy Labs. Alat tersebut memiliki enam mekanisme twiddly di permukaannya, dan masing-masing bergerak dengan cara yang unik: saklar rocker, sebuah tombol, satu set tombol yang bergelombang. “Saya suka,” kata Suva.

Ketika pencipta Fidget Cube, Kickstarter, memproduksi mainan tersebut musim panas lalu, mereka berharap mendapatkan $ 15.000, namun justru berakhir dengan mendapatkan dukungan lebih dari $ 6,4 juta dan lebih dari 154.000 pendukung. Kini pembuat mainan sejenis berlomba-lomba melakukan bisnis yang cepat di dunia fidget spinner, perangkat dengan bantalan bola yang berputar ketika dipilin menggunakan gerakan jari. Remaja menyukai alat seperti itu.

Mengapa permainan ini begitu menarik? Karena permainan itu merupakan jawaban terhadap gaya hidup kerja atau belajar di belakang meja. Masyarakat semakin menuntut kerja mental sambil menerapkan kebiasaan fisik yang tidak sehat dan tidak aktif. ‘Tetap bergerak’ adalah cara untuk mengatasi problem seperti itu.

Permainan tersebut juga memiliki manfaat kognitif. Julie Schweitzer, seorang ilmuwan di UC Davis, mempelajari anak-anak dengan ADHD saat mereka melakukan tes mental. Semakin intens anak-anak bermain fidget spinner, semakin tinggi skor mereka. Namun masalahnya, efeknya tidak berlaku untuk anak-anak tanpa ADHD.

Schweitzer berhipotesis bahwa gerakan fisik membangkitkan gairah manusia, menghasilkan neurotransmiter yang memperbaiki fokus. “Mereka terlihat-dari wajah mereka-seperti sedang bekerja lebih keras, ketika mereka bergerak,” katanya. Hal ini sebenarnya tidak sesuai dengan stereotip kita bahwa kita berasumsi bahwa konsentrasi yang mendalam seharusnya terlihat seperti patung Pemikir buatan Rodin yang menggambarkan tubuh manusia yang benar-benar diam. Tapi terkadang, berpikir konsentrasi pun membutuhkan gerakan.

Para siswa dan penghuni ruang kelas sekarang sangat sedikit bergerak dalam alur kerja sehari-hari mereka. Kita bahkan hampir tidak perlu bangun untuk menyalakan komputer, televisi, atau mencetak di atas sehelai kertas. Itu artinya, lama kelamaan lingkungan fisik kehilangan perannya.

Dalam konteks ini, nge-trend-nya permainan fidget spinner mengungkapkan rasa dahaga kolektif atas langkanya terhadap kesenangan gerak mekanis dan taktis.

Tentu saja, tidak semua orang berpendapat dengan cara yang sama. Katherine Isbister, seorang peneliti game, dan Michael Karlesky, seorang manajer produk untuk sebuah startup, baru-baru ini mempresentasikan sebuah studi yang mengungkapkan serangkaian strategi yang aneh. “Mengulang ulang sesuatu mungkin akan menenangkan,” kata Isbister, “sambil mengutak-atik sesuatu bisa jadi cara untuk memusatkan perhatian Anda.” Tentu saja itu hipotetis. Tapi jika Isbister benar, itu menunjukkan adanya perkembangan cara pikir.

“Mengulang ulang sesuatu mungkin akan menenangkan”

Tapi gerakan-gerakan seperti itu tidak selalu bagus. Jika tidak hati-hati, akan bisa menjadi antisosial: Seperti bermain fidget spinner yang memutar-mutar mainan, seorang gadis yang memilin-milin rambut saat sedang mencoba berkonsentrasi, bisa membuat rekan kerja yang duduk di dekatnya menjadi gila. Di pihak lain, setiap orang memiliki pengalaman duduk di meja dengan seseorang yang memantulkan kaki. Gerakan-gerakan seperti itu bisa menenangkan tapi bagi orang lain sangat menjengkelkan.

Sampai di sini, mungkin kita harus mulai berpikir bahwa perasaan seperti gelisah atau sulit berkonsentrasi sebagai tanda adanya sumber energi yang belum dimanfaatkan.  Kita bisa menguasai dunia di sekitar kita-bahkan saat kita masih berusaha mempertajam pikiran kita.



Leave a Reply

Demos

Color Skin

Header Style

Nav Mode

Layout

Wide
Boxed